Ciuman dan Hadiah Ulang Tahun

abfc4b69318d8b4229d8e8a6d93ec1a4_large

Hujan deras turun memberi efek titik titik kecil pada kaca dikamarku. Aku tersadar dari mimpi yang cukup mengganggu pikiran. Mimpi yang berkali-kali terulang meski aku sadar bahwa itu hanya mimpi. “Tuhan sedang mengujiku.” Sering kali aku meyakinkan diriku agar tidak mengeluh pada Tuhan karena mimpi yang cukup mengganggu.

“tok.. tokk.. tok” bunyi pintu diketuk. Aku coba untuk bergerak walau dengan malas. Saat pintu kubuka, Kamu berdiri dengan senyum lembutmu yang namun masih belum cukup bagiku untuk mengerti arti senyummu. Lalu perlahan-lahan kamu mulai menciumku dengan lembut. Selembut senyummu. “Selamat ulang tahun sayang.” Katamu.

Aku hanya tersenyum kecil dan sedikit kaget dengan kejutanmu di hari ulang tahunku. Ini bukan pertama kalinya kamu memberi kejutan padaku. Aku memperhatikan kamu yang sedari tadi memasuki kamarku sambil menatap jendela kamarku. Kamu menatap hujan yang sedang mengalir dijendela kamarku. Dari gemetar kecil tubuhmu, aku mengerti bahwa kamu kedinginan. Kamu rela datang kerumahku di pagi hari ditemani hujan sepanjang jalan. Mengingatkan aku mengapa aku menaruh perhatian padamu. Kamu menarik perhatianku. Lalu kukagumi kesederhanaanmu. Sesederhana kejutanmu pagi ini. Perlahan aku mulai memelukmu. Aku bisa merasakan dinginnya hujan. Kasihan kamu sayang, sudah tubuhmu dibalut dinginnya hujan, hatimu pun masih kuselimuti dengan hatiku yang dingin. Hanya pelukan tak tiada arti bagiku ini yang mungkin dapat memberikan sedikit kehangatan padamu.

“Aku tidak apa-apa. Jadi bagaimana ulang tahunmu kali ini?” ucapmu sambil melepaskan pelukanku.

“Menurutmu?” jawabku yang kulihat semakin membuatmu gelisah. Terlihat dari kedua matamu yang sebentar sebentar menatap mataku. Lalu sebentar-sebentar melayangkan pandangan kesekeliling kamarku. Seperti sedang mencari sesuatu.

“Lalu, bagaimana dengan hadiah ulang tahun yang ingin sekali kamu dapatkan itu?” tanyamu dengan santai. Aku tau kamu sedang menekan perasaanmu.

“Aku masih belum mendapatkannya. Dan lagipula, sepertinya aku tidak akan mendapatkannya.” Jawabku lagi.

“Bagaimana jika aku yang memberikannya?” katamu lagi. Belum sempat aku menjawab,  kamu sudah berkata “Aku hanya bercanda.” Sambil tertawa ringan.

Lalu tanpa memberi aba-aba, aku mulai mendekat padamu. Mencoba untuk mencumbumu. Aku tau ini sama sekali tidak berguna. Tidak bisa membangkitkan cinta ku padamu. Padahal kita sudah resmi berpacaran selama 1 tahun. Perlahan, aku mulai mencium mu. Tapi, kamu buru-buru menjauh dari ku.

“Kamu tidak perlu memaksakan diri sayang. Aku masih merasakan ada orang lain saat kamu memaksakan diri untuk bercumbu denganku.” Katamu dengan suara bergetar.

Dengan langkah lambat, aku menjauhimu. Aku mulai menangis. Ketulusanmu. Tidak pantas untuk wanita yang tidak dapat menghargainya, sepertiku.

Aku sudah memiliki kekasih yang siap melakukan apa saja untukku, dan yang kuharapkan dihari ulang tahunku hanyalah keajaiban bahwa aku dapat kembali kepelukan mantan kekasihku? Dan kekasihku, dia tidak menganggap ini sebuah kompetisi. Ia hanya mencintaiku. Ia tidak berharap aku mencintainya. Ia hanya ingin aku tau bahwa dia akan selalu ada untukku sampai aku mendapatkan apa yang aku inginkan.

Tetapi, Aku terpikat padanya. Terikat. aku tidak mampu membuka pintu hatiku untukmu.  Kuberharap ada orang lain sepertinya. Tapi Tuhan tak pernah menciptakan dua, hanya satu. Yaitu dia. Seandainya aku lebih dulu mengenalmu, pasti kamu tidak harus seperti ini. Seandainya dulu kita tidak saling kenal, pasti kamu juga tidak akan seperti ini.

“Hai mantan kekasihku, tahukah kamu bagaimana peliknya sekarang ini? Seandainya kamu tidak pergi meninggalkan aku…..Aku merasa nyaman dengan kekasihku, tetapi aku tidak merasa bahagia.” Jeritku dalam hati.

Lalu terdengar bunyi handphone ku berbunyi. Sebuah telepon dari nomer yang tidak kukenal. Dari ujung telepon terdengar suara.

“Hey, happy birthday…”

“Maaf, siapa ya?”

“Siapa lagi kalau bukan wujud dari keajaiban yang kamu inginkan dihari ulang tahunmu?”

Aku terhenyak. Telepon aku matikan. Kulihat  dalam-dalam matamu yang terlihat sedih tetapi sedang berusaha tersenyum. Lalu kamu mulai angkat bicara.

“Bagaimana hadiah ulang tahun dari ku?”

Aku tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Lalu kamu lanjut berbicara.

“Dia akan menemuimu hari ini. Berbahagialah. Walau, karena kebahagiaanmu aku tidak dapat mengukur seberapa jauh aku dari kebahagiaanku. Tetapi, ada satu hal yang ingin aku minta padamu….”

 

“Apa….?” Mendadak, aku ingin menangis.

“Bolehkah aku mendapatkan ciuman terakhir ku? Itu sudah lebih dari cukup…..”

 

Advertisements

The Weight of a Single Word

He wanted to. He really wanted to. The urge to tell her how he wanted to draw her in his arms and steal her breath away with the most poetic of soul-searing kisses was potent. He wanted to tell her he had never set his eyes on a more fascinating person, not only was she symmetrically pleasing to the eye but her mind was a breathtaking vista of knowledge and intellect. He wanted to tell her he felt spiritually connected to her ideals and her aura was magnetic in its colourful force. He wanted to tell her her ass was made for the steel of his hand, her hand was meant to fit into his, her piercing eyes did terrible things to his insides, his eyes were fixated, unequivocally, with her. He wanted to tell her he wanted to get right into the crux of her and sew his volition to hers.

But how he could say all these things without sounding completely whipped?

How could he tell her everything he wanted to tell her with sombre honesty and not cringe at the cheesiness of it all?

Running his hand through his hair, he decided to throw caution to the wind and just tell her. Just pluck up every ounce of courage and put himself out there.

And so when he saw her next, he walked up to her and said, “Hi,” and that was all that need be said. Everything else was weighted therein.