2019 at very first sight.

IMG_20190102_210219_292.jpg

  Pada umumnya banyak orang menaruh ekspetasi dengan lembaran baru. Pun aku dengan tahun yang baru saja berlalu lewat satu hari waktu nulis post ini. Bicara soal ekspetasi, harapan, dan juga resolusi sesungguhnya adalah hal yang cukup muluk-muluk untukku. Daripada harus menaruh harapan, aku lebih memilih untuk menyebutnya target yang harus aku capai. Syukur kalo kesampaian dalam kurun waktu setahun ini. Kalaupun tidak, aku tak akan menyesal.

    Hal utama yang ingin kucapai di tahun 2019 ini adalah mengapresiasi. Bagaimana aku mengapresiasi waktu, teman-teman, keluarga, dan juga diriku sendiri. Akhir-akhir ini aku menyadari banyak hal yang seharusnya ku syukuri dibanding menyalahkan diri sendiri atas apapun yang sudah kupilih.  Sesungguhnya akupun belum banyak mengambil banyak keputusan atas pilihan yang kupunya. Sewaktu sekolah tanpa mengerti perbedaan SMA dengan STM, aku menuruti mau orang tuaku untuk sekolah di STM. Sedangkan aku cuma anak perempuan rumahan yang suka nonton tv, baca komik, gak boleh keluar rumah lewat dari jam 7 malam. Tentu saja sekolah di STM mengubah cukup banyak kepribadianku. Aku lebih rajin mencari-cari alasan buat sekedang nongkrong dengan teman-temanku. Kalau temanku yang sekarang melihatku awal-awal SMA, pasti tidak akan percaya! Dulu aku tidak nyaman berteman dengan lelaki. Aku bisa sopan berbicara dengan sesama perempuan tanpa khawatir aku becanda kelewat batas. Tapi pada akhirnya aku lebih mempercayai teman-teman lelakiku dibanding perempuan pada waktu itu. Aku tidak suka dengan kata-kata manis yang ujungnya hanya untuk menjatuhkan di belakang. Aku memilih mendengarkan ocehan teman lelakiku yang kalau tidak dicerna sebenarnya menyakitkan tapi aku suka lontaran apa adanya dari mulut mereka. Aku memutuskan untuk bersama mereka yang menerimaku apa adanya. Pola pikir ini pun akhirnya berlanjut hingga sekarang. Thanks to masa sekolahku! Hehehe.

    Bertahun sudah tidak menulis. Waktu baca postingan-postingan sebelum ini, aku menyadari kalau dulu aku mampu mengungkapkan apa yang aku rasa. Mudah. Tinggal tulis. Walaupun gak bagus, tapi aku puas. Padahal ketika berniat untuk ngeblog dulu, aku bercita-cita menjadi seorang penulis. Harusnya aku banyak belajar dari buku-buku yang dulu sering kubaca. Di umurku sewaktu SMA, menulis rasanya lega sekali. Aku senang. Bayangkan aku harus bersikap cool karena sekolahku dominan laki-laki. Sedangkan tidak dipungkiri patah hati semasa sekolah adalah hal yang cukup menyakitkan dibanding saat ini. Kalau sekarang aku lumayan bisa berpikir rasional dengan cinta yang sama menggebu-gebunya sewaktu memakai seragam putih abu-abu.

    Bicara soal aku saat ini, setelah lulus sekolah melanjutkan pendidikan yang ditentang habis-habisan oleh keluarga besarku karena di tempat asalku, media masih dianggap hal sepele. Untuk pertama kalinya aku berani menentang demi keinginanku. Aku gak bisa mengharapkan diriku untuk sebuah mobilitas tinggi. Oh iya, aku juga gak berani nyalahin kompor dulunya. Mamak berpikir keras bagaimana aku bisa bertahan hidup untuk jauh dari rumah. Cuma nekat yang terus-menerus mendoktrin isi kepalaku. Hingga singkatnya, aku bisa lulus kuliah dengan memenangkan taruhan besar keluargaku. Aku bersyukur atas teman-teman kampus dan juga tempat kerja sampinganku. Tanpa mereka mungkin aku sudah malu dan ingin segera pulang dan berdiam di kota yang sama sekali aku tidak menemukan kecocokan dengan diriku. Aku tidak dapat banyak bercerita tentang keluargaku karena memang aku tidak cukup mengerti mereka. Selama 20 tahunan ini, aku belum menemukan frekuensi yang sama kecuali dengan mamak.

    Sekarang di tahun yang baru ini, dengan pekerjaan yang baru juga, aku menaruh taruhan yang besar lagi. Ketika lawanku adalah keluarga, aku hanya punya pilihan harus menang. Meskipun selalu dibayangi ketakutan dari masa lalu dan juga peluang untuk menang, aku berusaha untuk percaya dengan apa yang aku pilih. Aku masih percaya dengan hukum semesta akan ikut mengaminkan apa yang kita percaya.

IMG_20190102_210417_684.jpg

(Nata, 2014).

Advertisements

Review Film Langka; A Head Full Of Dreams

nata

Satu hadiah di akhir tahun 2018 untuk penggemar Coldplay adalah film dokumenter “A Head Full Of Dreams”.  Film yang diputar serentak di seluruh bioskop penjuru dunia pada tanggal 14 November 2018. Meski bukan penggemar fanatik Coldplay, film dokumenter ini cukup membuat penasaran untuk ditonton. Bagaimana tidak?  Film dokumenter “A Head Full Of Dreams” hanya diputar satu hari saja di lebih dari 2000 bioskop di penjuru dunia. Melalui trailernya yang sudah tersebar banyak di kanal YouTube menampilkan cuplikan beberapa megahnya tur Coldplay dan klip rekaman Chris Martin dengan teman-temannya saat pertama kali Coldplay terbentuk. Campuran rekaman amatir dalam film ketika menceritakan Coldplay di era 90an membuat dokumenter ini terlihat natural dan tidak dibuat-buat. Meskipun Chris Martin biasanya disebut pentolan dari band inggris ini, tiap-tiap personil lainnya mendapat kapasitas cerita yang sama dengan Chris.

Band yang sejak awal terbentuk dengan pondasi pertemanan yang kuat diawali oleh Chris Martin dan Jonny Buckland. Dari empat personil Coldplay, yang memiliki ikatan paling kuat adalah Chris dan Jonny. Hal tersebut diakui oleh personil lainnya dalam dokumenter “A Head Full Of Dreams”. Ketika proses membuat album, Chris lebih sering menunjukkan karya mentahnya ke Jonny. Lalu setelah keduanya membedah lagu tersebut, barulah didiskusikan ke personil band lainnya.

Pada dokumenter ‘Ä Head Full Of Dreams” ada bagian cerita personil kelima Coldplay yaitu Phil Harvey. Menduduki posisi manajer Coldplay membuatnya terlibat dalam perdebatan proses pembuatan album. Namun kita tidak akan menemukan perdebatan yang sengit seperti di beberapa film dokumenter band lainnya. Coldplay sangat mengutamakan kekeluargaan. Hal itulah yang membuat ikatan mereka kuat sejak awal terbentuk hingga sekarang ini. Momen Phil memutuskan untuk berhenti sejenak “bermain-main” dengan Coldplay, menjadi salah satu momen kelam untuk Chris dan teman-teman. Kehilangan orang terdekat dan kritik media menjadi unsur dramatis dalam dokumenter “A Head Full Of Dreams”.

Terlepas dari unsur cerita yang sangat memotivasi untuk ditiru band yang sedang merintis karya, teknik komposisi visual tidak terlalu menonjol di dokumenter ini. Kalau mengharapkan suguhan gambar yang memenuhi unsur-unsur Sinematografi, dokumenter ini tidak cukup baik untuk dilihat. Tetapi jika ingin melihat proses kreatif dibalik lagu-lagu Coldplay yang magis, dokumenter ini sangat memenuhi keinginan tersebut. Meski ide membuat film dokumenter “A Head Full Of Dreams” ditentang oleh Chris, namun akhirnya ia setuju setelah tidak sengaja melihat rekaman lama mereka di era 90an. Berterima kasihlah pada salah seorang teman kuliah Chris, Mat Whitecross yang memiliki inisiatif untuk merekam mereka sejak dulu dengan kamera seadanya. Karena tanpa potongan rekaman gambar tersebut, film dokumenter “A Head Full Of Dreams” tidak lebih dari dokumentasi konser Coldplay yang megah seperti di kanal YouTube.

Aku belum menamainya kepergian

Aku belum menamainya kepergian

Karena aku masih menemukanmu  di jalan-jalan yang selalu kita lalui

Aku belum menamainya kepergian

Karena aku masih memelukmu saat memejamkan mata

Aku belum menamainya kepergian

Karena aku masih tertawa denganmu saat menatap langit-langit di kamar

Aku belum menamainya kepergian

Karena aku masih mencoba peruntungan untuk kembali

Aku belum menamainya kepergian

Masih belum-

Meski sedih dan cemas terus berdialog dalam ingatan

Seminggu dan seterusnya

“For the first time in forever”

Pertemuan bukan merupakan hal mudah ditebak kapan akan terjadi dan juga apa yang terjadi setelahnya. Kemungkinan untuk bertemu denganmu bukan hal yang dapat kuperkirakan. Terutama dunia keseharian yang kita lalui, bukan hal yang sehari-hari sering kita lakukan bersama.

I met you by accident. Tuhan yang baik, mempertemukan kita dalam kurun waktu yang cukup singkat. Dalam waktu seminggu, aku, aktivitasku, aktivitasmu, membaur menjadi satu. Kau dan aku bukan partner kerja yang akrab. Kalau saja aku tidak memenuhi kualifikasi sebagai partner kerja kau dan teman-temanmu, aku tidak akan memperhatikanmu seperti sekarang ini.

Yang kutahu, kau pekerja yang kompeten, membiarkan waktu tidurmu hilang untuk menggarap tugas praktik dari kampus. Aku tau kau dan teman-temanmu tidak suka menjadi “pembantu kampus” tapi nyatanya, kalian, dan aku juga nantinya  tidak punya pilihan lain selain menjalani “kebijakan kampus” tersebut.

Aku bukan pengingat wajah yang baik. aku bukan pemerhati yang rinci. Aku tidak pernah memperhatikanmu yang padahal selama seminggu kita selalu bertatap wajah.

Yang menarik perhatianku, setelah “kontrak kerja sama” antara senior-junior diantara aku, kau, dan teman-temanmu berakhir, pada salah satu social media ku, kau mengajak berteman. Namamu yang cukup populer, cukup membuatku tertarik untuk sedikit mengenalmu. Menambah teman tidak pernah salah, pikirku.

Aku mulai rajin scrolling semua akun social mediamu dikala dini hari. Awalnya hanya untuk sekedar menghabiskan kopi dan iseng belaka. Tuhan Maha Iseng, sekarang aku candu. Bahkan setelah beberapa chat kita di dini hari dimana aku mencari celah untuk sekedar mendapatkan namanmu di chatlist ku. Setelahnya, aku baca berulang. Tidak ada yang special, tidak ada yang terlihat berlebihan. Sejatinya, kecamuk di hatiku tidak pernah sejalan dengan apa yang kulakukan.

Kau tau apa yang di benakku saat memandangmu dari kejauhan sekarang?

“Aku belum pernah makan semeja dengannya”

“Aku belum sempat bercanda, berbincang tentang kesamaan hobi yang kita miliki”

Aku hanya mengingat beberapa senyummu selagi bekerja,

dan tersadar.

Aku dan kau semakin jauh.

Kenyataannya,

kau hampir menyelesaikan studi mu di kampus.

Kenyataannya,

kita berasal dari kota yang terpaut jauh jaraknya.

Perjumpaan kita hanya terasa manis di ingatanku.

Mengingat kemungkinan kita yang tak lagi mungkin untuk bertemu bahkan untuk sekedar saling menyapa,

Tuhan, jika kau singgah di suratku ini, tolong jangan bawa dia kembali ke ingatanku.

Karena saat menanam kenangan ini, aku tidak menghasilkan apa-apa.

My Girl Movie Review

Image

I used to love this movie because the main character Vada happy (Anna Chlumsky) is beautiful and smart.

Takes place in the summer of the year 70’s in Pennsylvania. Vada Sultenfuss was the son of Harry Sultenfuss, a single father who ran a funeral home at their residence. It made Vada age of 11 who are already familiar with ‘death’.

That fear makes Vada ‘obsessed’ with death. Just because the client saw his father’s death records, Vada always think is suffering from prostate and breast cancer, and age was not longer. He always feel sick and frequent visits to the doctor to ask to be checked (even though he was healthy). He considers, if he dies then he will not be afraid anymore to the dead (corpse).

Vada had a friend, who was the only person who will listen and obey her wishes. Thomas J. (Played by Macaulay Culkin). Closeness they both always so derision of their friends. The two boy characters actually the opposite, Vada is a smart kid, critically, as well as dominant. Meanwhile, Thomas J. boy is innocent and ‘weak’. You could say, Vada happy friends with Thomas J.

Vada life can be fairly pleasant, although not having a mother (her mother died while giving birth to him), was piqued when it comes a makeup artist named Shelly DeVoto (Jamie Lee Curtis) applying for work at his father’s funeral home. Shelly worked there as a corpse makeup. Professional relationship with Shelly Harry than just co-workers developed a romantic relationship. Vada realized that he had never noticed her father.

On the other hand, Vada assess teacher at school, Mr. Jake Bixler (Griffin Dunne). He often seek attention in front of the teacher, but the teacher apparently love Vada unrequited. There Vada aware, that the only people who will listen and care about her was Thomas J.

 Here’s some conversation in the film:

Thomas J: Vada?
Vada: Yeah?
Thomas: Would you think of me?
Vada: For what?
Thomas J: Well, if you don’t get to marry Mr. Bixler.
Vada: I guess.

Image

 

Ciuman dan Hadiah Ulang Tahun

Hujan deras turun memberi efek titik titik kecil pada kaca dikamarku. Aku tersadar dari mimpi yang cukup mengganggu pikiran. Mimpi yang berkali-kali terulang meski aku sadar bahwa itu hanya mimpi. “Tuhan sedang mengujiku.” Sering kali aku meyakinkan diriku agar tidak mengeluh pada Tuhan karena mimpi yang cukup mengganggu.

“tok.. tokk.. tok” bunyi pintu diketuk. Aku coba untuk bergerak walau dengan malas. Saat pintu kubuka, Kamu berdiri dengan senyum lembutmu yang namun masih belum cukup bagiku untuk mengerti arti senyummu. Lalu perlahan-lahan kamu mulai menciumku dengan lembut. Selembut senyummu. “Selamat ulang tahun sayang.” Katamu.

Aku hanya tersenyum kecil dan sedikit kaget dengan kejutanmu di hari ulang tahunku. Ini bukan pertama kalinya kamu memberi kejutan padaku. Aku memperhatikan kamu yang sedari tadi memasuki kamarku sambil menatap jendela kamarku. Kamu menatap hujan yang sedang mengalir dijendela kamarku. Dari gemetar kecil tubuhmu, aku mengerti bahwa kamu kedinginan. Kamu rela datang kerumahku di pagi hari ditemani hujan sepanjang jalan. Mengingatkan aku mengapa aku menaruh perhatian padamu. Kamu menarik perhatianku. Lalu kukagumi kesederhanaanmu. Sesederhana kejutanmu pagi ini. Perlahan aku mulai memelukmu. Aku bisa merasakan dinginnya hujan. Kasihan kamu sayang, sudah tubuhmu dibalut dinginnya hujan, hatimu pun masih kuselimuti dengan hatiku yang dingin. Hanya pelukan tak tiada arti bagiku ini yang mungkin dapat memberikan sedikit kehangatan padamu.

“Aku tidak apa-apa. Jadi bagaimana ulang tahunmu kali ini?” ucapmu sambil melepaskan pelukanku.

“Menurutmu?” jawabku yang kulihat semakin membuatmu gelisah. Terlihat dari kedua matamu yang sebentar sebentar menatap mataku. Lalu sebentar-sebentar melayangkan pandangan kesekeliling kamarku. Seperti sedang mencari sesuatu.

“Lalu, bagaimana dengan hadiah ulang tahun yang ingin sekali kamu dapatkan itu?” tanyamu dengan santai. Aku tau kamu sedang menekan perasaanmu.

“Aku masih belum mendapatkannya. Dan lagipula, sepertinya aku tidak akan mendapatkannya.” Jawabku lagi.

“Bagaimana jika aku yang memberikannya?” katamu lagi. Belum sempat aku menjawab,  kamu sudah berkata “Aku hanya bercanda.” Sambil tertawa ringan.

Lalu tanpa memberi aba-aba, aku mulai mendekat padamu. Mencoba untuk mencumbumu. Aku tau ini sama sekali tidak berguna. Tidak bisa membangkitkan cinta ku padamu. Padahal kita sudah resmi berpacaran selama 1 tahun. Perlahan, aku mulai mencium mu. Tapi, kamu buru-buru menjauh dari ku.

“Kamu tidak perlu memaksakan diri sayang. Aku masih merasakan ada orang lain saat kamu memaksakan diri untuk bercumbu denganku.” Katamu dengan suara bergetar.

Dengan langkah lambat, aku menjauhimu. Aku mulai menangis. Ketulusanmu. Tidak pantas untuk wanita yang tidak dapat menghargainya, sepertiku.

Aku sudah memiliki kekasih yang siap melakukan apa saja untukku, dan yang kuharapkan dihari ulang tahunku hanyalah keajaiban bahwa aku dapat kembali kepelukan mantan kekasihku? Dan kekasihku, dia tidak menganggap ini sebuah kompetisi. Ia hanya mencintaiku. Ia tidak berharap aku mencintainya. Ia hanya ingin aku tau bahwa dia akan selalu ada untukku sampai aku mendapatkan apa yang aku inginkan.

Tetapi, Aku terpikat padanya. Terikat. aku tidak mampu membuka pintu hatiku untukmu.  Kuberharap ada orang lain sepertinya. Tapi Tuhan tak pernah menciptakan dua, hanya satu. Yaitu dia. Seandainya aku lebih dulu mengenalmu, pasti kamu tidak harus seperti ini. Seandainya dulu kita tidak saling kenal, pasti kamu juga tidak akan seperti ini.

“Hai mantan kekasihku, tahukah kamu bagaimana peliknya sekarang ini? Seandainya kamu tidak pergi meninggalkan aku…..Aku merasa nyaman dengan kekasihku, tetapi aku tidak merasa bahagia.” Jeritku dalam hati.

Lalu terdengar bunyi handphone ku berbunyi. Sebuah telepon dari nomer yang tidak kukenal. Dari ujung telepon terdengar suara.

“Hey, happy birthday…”

“Maaf, siapa ya?”

“Siapa lagi kalau bukan wujud dari keajaiban yang kamu inginkan dihari ulang tahunmu?”

Aku terhenyak. Telepon aku matikan. Kulihat  dalam-dalam matamu yang terlihat sedih tetapi sedang berusaha tersenyum. Lalu kamu mulai angkat bicara.

“Bagaimana hadiah ulang tahun dari ku?”

Aku tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Lalu kamu lanjut berbicara.

“Dia akan menemuimu hari ini. Berbahagialah. Walau, karena kebahagiaanmu aku tidak dapat mengukur seberapa jauh aku dari kebahagiaanku. Tetapi, ada satu hal yang ingin aku minta padamu….”

 

“Apa….?” Mendadak, aku ingin menangis.

“Bolehkah aku mendapatkan ciuman terakhir ku? Itu sudah lebih dari cukup…..”

 

Fight With Mom

well, i got a fight with my mom tonight. she knows about all money that my dad gave to me. I knew i was wrong. i didnt tell her ’bout that. but, why should we’re fighting? She says this isnt about money. its about trusting. well, but i think this should not be problem. i’m just human. i always made mistakes. but, my mom she said she wouldnt trust me anymore. for now, i dont know what i have to do.

any idea guys?

 

Job Training

hello, right now, I’m on Job Training.

Kinda feel bored cause I dont know what to do. Feels like Forever Alone without my friends. I missed all stuff at my school. All the homework and exams even when I do that fucking things I almost kill myself. but, well I guess I rather choose keep studying at school than at this place.

good thing from this Job Training its just we know how to act at company. what else can I say?
just….. do what ur boss says and then be good child. but I guess if I try to love all ppl here, it’ll make different situation. but, yeah… I just dont know how to be good child. u know I loved to messing with ppl surround me._.

haha LOL. okay, jst try love what I do. lalalala._.

Chemnistry

Hai! Long time no posting here heuheuehhe. Maklum, saya sibuk. Eh maksud saya menyibukkan diri. Nah, kali ini saya mau posting jawaban PR kimia saya. Kurang kerjaan kan? Emang heuehhe. Ini disuruh sama guru KKPI saya. Soalnya saya satu kelas kompakan ga ngerjain PR kimia. Kerjain sih. Tapi cuman ngerjain 1 soal dari 2 soal. Kami nggak belajar jadinya. Kami sekelas disuruh berdiri ngadep tiang bendera.  Malah, sebelum disuruh ngadep tiang bendera, disuruh lari keliling lapangan apel 2x. yaaah itung-itung olahraga laaah. Heuehehe.  Eh, ternyata pas dijemur dilapangan, kami ketemu sama guru KKPI. Dan jadilah ini. Kami dapet tugas tambahan buat ke wordpress jawaban dari PR kimia itu.

Selesai jam pelajaran Ibu Nur’Aini (Mother Of Kimia) kami disuruh lagi membuat surat perjanjian dengan nya dan harus ditangani walikelas. Tetapi, berhubung papi tercinta kami lagi nggak ada, lagi jalan-jalan ke jakarta, kami disuruh meminta tanda tangan pak Rajab, Kepala Bengkel kami. Hehehehehe. Dan kalian tau? Udah capek-capek minta tanda tangan, PR nya ga semudah ngumpul gitu aja. Kami dipersulit lagi! Kami disuruh menjelaskan kembali sama ibu itu gimana cara nyari jawabannya. WATDAHEL banget kan!!

Udahan deh saya ceritanya, ayuuk langsung cekidot aja yukkemooonn!!! XDDD

Nih, soal beserta jawabannya.

Latihan Soal (Hal.35)

18. Pada pemanasan 1 mol gas SO3 dalam ruang yang volumenya 5 liter diperoleh gas O2 sebanyak 0,25 mol. Pada keadaan tersebut tetapan kesetimbangan Kc adalah…

a. 0,01

b. 0,05

c. 0,25

d. 10

e. 20

penyelesaiannya.

Lalu kita cari  Molarnya :

Jika sudah mendapatkan hasil dari molar, maka dapat ditentukan Kcnya adalah ;

Jadi, jawabannya ialah (b) 0,05

21. Pada suatu reaksi kesetimbangan 2Al + 3H2O <–> Al2O3   + 3H2. Mula-mula terdapat 1 mol Al dan 1 moluap air. Setelah kesetimbangan tercapai, terdapat 0,6 mol H2. Harga tetapan kesetimbagan adalah…
a. 0,064

b. 0,12

c. 0,216

d. 1,875

e. 3,375

Penyelesaiannya.

Jadi, Jawaban dari soal diatas ialah (e) 3,375