Seminggu dan seterusnya

“For the first time in forever”

Pertemuan bukan merupakan hal mudah ditebak kapan akan terjadi dan juga apa yang terjadi setelahnya. Kemungkinan untuk bertemu denganmu bukan hal yang dapat kuperkirakan. Terutama dunia keseharian yang kita lalui, bukan hal yang sehari-hari sering kita lakukan bersama.

I met you by accident. Tuhan yang baik, mempertemukan kita dalam kurun waktu yang cukup singkat. Dalam waktu seminggu, aku, aktivitasku, aktivitasmu, membaur menjadi satu. Kau dan aku bukan partner kerja yang akrab. Kalau saja aku tidak memenuhi kualifikasi sebagai partner kerja kau dan teman-temanmu, aku tidak akan memperhatikanmu seperti sekarang ini.

Yang kutahu, kau pekerja yang kompeten, membiarkan waktu tidurmu hilang untuk menggarap tugas praktik dari kampus. Aku tau kau dan teman-temanmu tidak suka menjadi “pembantu kampus” tapi nyatanya, kalian, dan aku juga nantinya  tidak punya pilihan lain selain menjalani “kebijakan kampus” tersebut.

Aku bukan pengingat wajah yang baik. aku bukan pemerhati yang rinci. Aku tidak pernah memperhatikanmu yang padahal selama seminggu kita selalu bertatap wajah.

Yang menarik perhatianku, setelah “kontrak kerja sama” antara senior-junior diantara aku, kau, dan teman-temanmu berakhir, pada salah satu social media ku, kau mengajak berteman. Namamu yang cukup populer, cukup membuatku tertarik untuk sedikit mengenalmu. Menambah teman tidak pernah salah, pikirku.

Aku mulai rajin scrolling semua akun social mediamu dikala dini hari. Awalnya hanya untuk sekedar menghabiskan kopi dan iseng belaka. Tuhan Maha Iseng, sekarang aku candu. Bahkan setelah beberapa chat kita di dini hari dimana aku mencari celah untuk sekedar mendapatkan namanmu di chatlist ku. Setelahnya, aku baca berulang. Tidak ada yang special, tidak ada yang terlihat berlebihan. Sejatinya, kecamuk di hatiku tidak pernah sejalan dengan apa yang kulakukan.

Kau tau apa yang di benakku saat memandangmu dari kejauhan sekarang?

“Aku belum pernah makan semeja dengannya”

“Aku belum sempat bercanda, berbincang tentang kesamaan hobi yang kita miliki”

Aku hanya mengingat beberapa senyummu selagi bekerja,

dan tersadar.

Aku dan kau semakin jauh.

Kenyataannya,

kau hampir menyelesaikan studi mu di kampus.

Kenyataannya,

kita berasal dari kota yang terpaut jauh jaraknya.

Perjumpaan kita hanya terasa manis di ingatanku.

Mengingat kemungkinan kita yang tak lagi mungkin untuk bertemu bahkan untuk sekedar saling menyapa,

Tuhan, jika kau singgah di suratku ini, tolong jangan bawa dia kembali ke ingatanku.

Karena saat menanam kenangan ini, aku tidak menghasilkan apa-apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s